Gelombang demonstrasi mahasiswa yang kembali pecah di berbagai kota menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi yang tak bisa lagi diabaikan. Bukan hanya soal kebijakan kontroversial yang didorong tanpa transparansi, tetapi juga soal ketidakadilan yang semakin nyata di hadapan rakyat. Reformasi yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan air mata kini terasa semakin dikhianati oleh para pemegang kekuasaan. Oligarki politik semakin kuat, hukum kian tajam ke bawah namun tumpul ke atas, dan suara rakyat justru dianggap ancaman.
Mahasiswa turun ke jalan bukan sekadar untuk unjuk rasa, tetapi untuk mengingatkan bahwa demokrasi sedang dalam bahaya. Mereka menyuarakan protes terhadap revisi undang-undang yang dinilai melemahkan hak-hak sipil, kebijakan ekonomi yang semakin memperlebar kesenjangan, serta lemahnya pemberantasan korupsi yang justru melindungi para pejabat dan elite berduit dan berkuasa. Isu-isu seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, eksploitasi sumber daya alam yang merugikan rakyat, hingga ancaman terhadap kebebasan berpendapat menjadi pemicu utama perlawanan mereka.
Namun, alih-alih merespons dengan dialog yang sehat, pemerintah justru lebih sering menggunakan pendekatan represif. Aparat keamanan dikerahkan untuk membungkam aksi, gas air mata dilemparkan tanpa pandang bulu, dan para mahasiswa yang hanya ingin menyampaikan aspirasi malah ditangkapi. Sikap ini bukan hanya mencederai demokrasi, tetapi juga menunjukkan betapa kuasa di negeri ini semakin jauh dari prinsip keadilan.
Di tengah gelapnya kondisi bangsa, mahasiswa hadir sebagai penjaga moral yang berani menyalakan api perlawanan. Mereka bukan hanya sekadar oposisi jalanan, melainkan suara nurani rakyat yang masih peduli terhadap masa depan Indonesia. Gelapnya masa kini bukan alasan untuk menyerah, justru menjadi panggilan untuk terus berjuang. Jika mereka memilih diam, maka kegelapan ini akan semakin pekat, dan Indonesia yang seharusnya menjadi rumah bagi kita semua justru akan menjadi negeri yang hanya menguntungkan segelintir orang. Pertanyaannya kini, akankah suara mereka didengar, atau justru diredam dalam sunyi?