Rp 300 triliun. Jumlah yang mencengangkan, cukup untuk membangun ribuan sekolah, memperbaiki infrastruktur, atau bahkan mengurangi kemiskinan secara signifikan. Namun, di negeriku, angka sebesar itu melayang seperti angin, tanpa jejak yang jelas, hanya menyisakan cerita panjang tentang ketidakadilan dan sistem hukum yang mengundang tawa getir.
Hukuman? Hanya 6 setengah tahun kurungan. Sebuah keputusan yang membuat keadilan tampak seperti lelucon murahan. Memang benar, hukum di negeriku sering kali lebih peduli pada kesopanan dibandingkan keadilan. Jangan heran jika pelaku korupsi yang merugikan negara dengan jumlah fantastis masih bisa tersenyum di ruang sidang.
"Uang bisa dicari, keadilan bisa diurus nanti," barangkali ini adalah mantra yang terucap dalam hati sebagian pengambil keputusan. Hakim mungkin berpikir, kebebasan dan kesopanan adalah dua hal yang terlalu mahal untuk dikorbankan. Jadi, apa salahnya sedikit meringankan hukuman? Bukankah itu juga sebuah bentuk kesopanan?
Namun, siapa yang peduli pada lingkungan yang rusak akibat kebijakan yang korup? Toh, alam akan pulih sendiri, kata mereka. Tidak ada suara dari pohon-pohon yang ditebang, tanah yang terkikis, atau sungai yang tercemar. Mereka bisu di hadapan pengadilan. Dan kebisuan itu dimanfaatkan oleh mereka yang menganggap hukum hanyalah alat tawar-menawar.
Seandainya korupsi di negeri ini diangkat menjadi sinetron, mungkin judulnya adalah "Biar Timah Malang, Asal Nasibku Tenang". Sebuah drama tentang bagaimana uang rakyat dilenyapkan dengan mudah, sementara hukuman untuk pelaku terlihat seperti jeda iklan di tengah tayangan hiburan.
Kita dipaksa menjadi penonton pasif, menyaksikan ironi demi ironi. Ketika seorang pencuri ayam dihukum lebih berat daripada pencuri uang negara, kita tertawa getir. Ketika mereka yang menghancurkan hutan dan merusak ekosistem hanya mendapat teguran ringan, kita terdiam.
Dalam penggalan puisi Gus Mus, "Negeri Haha Hihi", tersirat kritik tajam tentang bagaimana keadilan di negeri ini telah berubah menjadi bahan lelucon:
"Hukum dan keadilan hanya basa-basi. Di negeriku, haha-hihi menjadi filosofi. Orang besar tertawa, yang kecil menderita."
Puisi ini adalah pengingat bahwa kita hidup di sebuah sistem yang sering kali menempatkan kepentingan segelintir orang di atas kepentingan bersama. Sistem di mana hukum menjadi permainan, dan keadilan hanyalah ilusi bagi mereka yang tidak punya daya dan kuasa.
Sebagai rakyat, kita memiliki suara. Suara itu mungkin kecil, tetapi jika disatukan, ia menjadi kekuatan. Jangan biarkan keadilan menjadi bahan tertawaan. Mari kawal proses hukum dengan kritis, suarakan ketidakadilan, dan ingatkan para pemimpin bahwa uang rakyat bukan mainan.
Dan untuk mereka yang menikmati kehangatan kursi kekuasaan, ingatlah: keadilan yang ditunda hanyalah ketidakadilan yang berkepanjangan. Uang bisa dicari, tapi kepercayaan rakyat? Sekali hilang, sulit untuk kembali.