Oleh : Lutfi Hidayatul Amri
Cinta sering kali menjadi topik yang penuh makna dan misteri. Banyak orang mendambakan cinta yang ideal, tetapi sering kali terjebak dalam harapan dan tuntutan terhadap pasangannya. Padahal, cinta yang sejati adalah cinta yang mampu menerima dan menghargai, bukan sekadar menuntut atau berharap pasangan menjadi seperti yang kita inginkan.
Ketika seseorang masih merasa kecewa atau terluka dalam hubungan, itu biasanya terjadi karena ada ekspektasi atau tuntutan yang tidak terpenuhi. Misalnya, "Kamu harus seperti ini," atau "Kenapa kamu tidak melakukan itu?" Ketika pasangan tidak memenuhi ekspektasi tersebut, muncullah rasa kecewa.
Namun, cinta yang sejati seharusnya tidak bersyarat. Ketika kita mencintai seseorang dengan tulus, kita menerima mereka apa adanya. Kita tidak memaksakan mereka untuk berubah sesuai keinginan kita, tetapi mendukung mereka menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Cinta yang benar adalah berkata, "Apapun kondisimu, aku menerima kamu." Dalam penerimaan itu, cinta menemukan kedamaian dan kebahagiaan.
Khalil Gibran pernah berkata,
"Biarkan ada ruang dalam kebersamaanmu, sebagaimana tiang-tiang kuil berdiri berjauhan, namun menopang satu atap yang sama."
Cinta yang ideal tidak memaksa kesamaan, tetapi justru menghargai perbedaan. Dalam perbedaan itulah, hubungan menemukan kekuatannya. Ketika dua orang yang berbeda saling menghormati dan mendukung, mereka seperti dua tiang yang kuat menopang "kuil hati" mereka.
- Perbedaan pendapat, keinginan, atau cara berpikir bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk saling melengkapi.
- Cinta sejati adalah saling sejajar, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling menguatkan, bukan saling mendominasi.
- Cinta yang ideal adalah ketika dua individu tetap menjaga identitasnya masing-masing, tetapi saling mendukung untuk tumbuh dan berkembang.
- Ketika satu pihak memaksakan kehendak, hubungan menjadi berat sebelah. Sebaliknya, ketika kedua pihak saling menerima, hubungan menjadi harmonis.
- Tidak ada paksaan, hanya penerimaan.
- Dalam keadaan apa pun, pasangan adalah tempat berbagi kekuatan.
- Tidak hanya soal menerima, tetapi juga menunjukkan cinta melalui perhatian dan tindakan nyata.