Perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) dan bagaimana peran mahasiswa menjadi detak jantung yang terus memompa semangat perubahan. NU, yang berdiri pada tahun 1926, bukan hanya sekadar organisasi keagamaan; tetapi juga sebagai simbol perlawanan kultural terhadap kolonialisme, penegakan nilai-nilai Islam yang inklusif, dan upaya memadukan tradisi dengan modernitas. Ketika penjajahan Belanda masih mencengkeram Nusantara, NU muncul dengan visi membangun bangsa yang merdeka, baik secara fisik maupun spiritual. Mereka tidak hanya berdakwah di mimbar, tetapi juga aktif terlibat dalam gerakan sosial-politik untuk mempersiapkan Indonesia yang berdaulat.
Nah, di sinilah mahasiswa memainkan peran krusial. Mahasiswa, dengan segala energi, intelektualitas, dan idealismenya, menjadi pendorong utama perubahan. Ketika Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perjuangan melawan penjajah hingga mempertahankan kemerdekaan, NU sering menggandeng mahasiswa untuk menciptakan sinergi antara tradisi keagamaan dan semangat revolusioner. Salah satu contohnya terlihat pada peran mahasiswa NU dalam Gerakan Pemuda Ansor, yang sejak awal berdiri hingga kini menjadi ujung tombak dalam menghadapi ancaman terhadap keutuhan bangsa.
Namun, peran mahasiswa tidak hanya berhenti di sana. Dalam era reformasi dan digital seperti sekarang, mahasiswa NU terus menempatkan diri sebagai penggerak transformasi. Mereka tak hanya bertahan di ruang-ruang kajian keislaman, tetapi juga meluas ke dunia teknologi, kebijakan publik, hingga aktivisme sosial. Mereka memahami bahwa perjuangan NU tidak boleh terjebak dalam nostalgia sejarah, tetapi harus terus relevan di setiap zaman. Lewat pemikiran kritis, kreativitas, dan semangat berorganisasi, mahasiswa NU menjadi generasi yang memastikan bahwa nilai-nilai Islam yang ramah, moderat, dan inklusif tetap hidup di tengah pusaran globalisasi yang saat ini melesat.
Jadi, ketika kita berbicara tentang perjuangan NU di Indonesia, kita tak bisa melupakan mahasiswa sebagai tulang punggung yang selalu menyuplai oksigen bagi semangat kebangkitan. Mereka adalah bukti nyata bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan, membangun Indonesia yang bukan hanya merdeka secara fisik, tetapi juga berdaulat dalam nilai-nilai luhur.
"Selamat Haflah Nahdlatul Ulama (NU) yang Ke-102 16 januari 1926 - 16 januari 2025"